Mendidik Generasi Muda Melek Teknologi

Home Forums Kegiatan Kemahasiswaan Mendidik Generasi Muda Melek Teknologi

This topic contains 0 replies, has 1 voice, and was last updated by  rudi anas 2 months, 2 weeks ago.

Viewing 1 post (of 1 total)
  • Author
    Posts
  • #1310

    rudi anas
    Participant

    Tidak hanya dilirik beberapa sekolah di Indonesia, aksi Hendro Yulius Suryo Putro dalam bagian tehnologi, dapat membuat PT. Astra Internasional Tbk simpatik

    KEDUA mata Muhamad Rafi Ediananta memandang monitor laptop yang menyala. Jari telunjuk tangan kanannya repot berseluncur di atas touchpad yang warnanya mulai menghilang.

    Di muka Rafi, panggilan akrabnya, ada trek model baju gamis 2020 robot berupa persegi. Satu Robot XLine versus 3.0 juga meluncur cepat ikuti jalan berbentuk garis hitam; Maze Solving, pada trek dengan latar berkelir putih ini.

    Robot buah hasil analisa sendiri itu bergerak sesuai program yang telah ditata lebih dulu memakai laptop. Senyum Rafi juga pecah saat itu juga merasakan robotnya meluncur dengan prima.

    “Lagi latihan untuk persiapan lomba Mecbot di Yogyakarta,” jelas siswa kelas XI SMA Negeri 4 Surabaya ini, saat hidayatullah bertanya mengenai aktivitasnya dalam suatu ruko pada Rabu (18/12/2019) petang itu.

    Mecbot singkatan dari Mechatronic Robot. Prof. Dr. Estiko Rijanto mendeskripsikan mechatronic (baca: mekatronik) jadi eksperimen (tehnologi) yang menyatukan tehnologi mesin, elektronik, serta informatika untuk membuat, menjalankan, dan pelihara skema dalam rencana sampai arah yang diharapkan.

    “Mudahnya, mekatronika ialah kombinasi dari pengetahuan tehnik mesin, tehnik elektro, tehnik informatika, serta tehnik kendali,” jelas Estiko pada satu artikel di web Pusat Riset Tenaga Listrik serta Mekatronik Instansi Pengetahuan Pengetahuan Indonesia (P2 TELIMEK LIPI).

    Rafi tidak sendiri. Di ruangan sempit lantai 3 satu ruko di Surabaya itu, ada juga 5 anak muda sejawatnya yang bergulat dengan robot sama.

    Seperti pepatah, untuk mendapatkan mimpi, ke-3 team (setiap team terbagi dalam 2 orang) ini ikhlas mati berkalang tanah. Hampir setiap saat; siang, sore, serta malam sepanjang satu pekan tidak pernah kendor untuk latihan, baik dengan mandiri atau dibarengi oleh sang tutor.

    Mereka ialah murid Adicita Wiraya Buat (AWG) Robotic Course Surabaya. Satu tempat pelatihan robotika, yang muridnya banyak memperoleh titel juara atau penghargaan. Tidak sebatas dari tempat persaingan di negeri, dan juga luar negeri dari mulai Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Beijing, sampai Osaka-Jepang.

    Sesaat, segudang prestasi yang pernah disandang Rafi diantaranya Juara I Lomba Mecbot 2018, Juara I Kontes Robot ITS Expo, Juara I Kontes Robot Nusantara, dan sebagainya.

    “Seru, belajar robotika. Ada kenikmatan tertentu, saat turut lomba lalu mendapatkan juara. Terus, bisa hadiah uang yang dapat ditabung. rekan baru. Kemungkinan di ajang lomba mereka jadi musuh, tapi saat kompetisinya selesai bisa saja sahabat,” tutur Rafi.

    Rafi mengharap, makin banyak generasi muda yang tertarik sama dunia tehnologi. Sebab, perubahannya setiap saat makin maju. Buah faedah yang dapat diambil dari pelajari tehnologi, juga sangat berlimpah, baik untuk diri kita atau warga.

    Berawal Ingin Mengangkat Nama Sekolah

    Hendro Yulius Suryo Putro jadi salah seorang figur penting yang mencetuskan berdirinya AWG Robotic Course Surabaya.

    Pria kelahiran Mojokerto, 18 Mei 1985 ini, memang punya beberapa ide yang cemerlang, di luar ide banyak orang. Dia tetap berpikir ke depan ikuti perkembangan jaman, seperti tehnologi yang terus bertumbuh sampai saat ini.

    “Bermula dari tahun 2007, saat saya diterima kerja di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islam al-Azhar 13 Surabaya. Saya jadi guru mata pelajaran fisika,” lelaki yang akrab dipanggil Hendro ini buka narasi.

    Saat itu, kata Hendro, jumlahnya muridnya tiap tahun alami penurunan. Pertama kalinya dia mengajar, murid kelas VII hanya 6 orang. Lalu, murid kelas VIII ada 14 orang. Sedang murid kelas IX sampai 32 orang.

    “Dulu, cari murid itu sulit sekali. Cari 20 orang saja, susahnya meminta ampun,” tuturnya menghela napas.

    Awal tahun 2008, jadi pucuk semua keresahan. Hingga, pengurus yayasan ingin tutup SMP Islam al-Azhar 13. Tetapi, dengan penuh kepercayaan, Hendro bergegas tawarkan satu jalan keluar jadi bentuk kepedulian.

    Bak seorang pahlawan, lulusan jurusan fisika Kampus Negeri Surabaya (UNESA, 2006) ini berseru keras, “Saya siap berusaha. In syaaAllah dapat. Minimum bisa murid 20 orang.”

    Gayung bersambut, Hendro tidak ingin menyiakan keyakinan yang diberi oleh faksi yayasan. Ikhtiar yang dia lakukan dengan keseluruhan sepanjang kira-kira 5 bulan berbuah berita yang menyenangkan. Tahun ajaran baru 2008, SMP Islam al-Azhar 13 mendapatkan murid 20 orang. “Alhamdulillah, sesuai dengan keinginan,” katanya mengucapkan syukur.

    Dua tahun selanjutnya (2010), putra dari pasangan Gatot Supriadi serta Siti Aminah ini mendapatkan amanah baru jadi wakil kepala sekolah.

    Waktu itu, susahnya cari murid masih jadi permasalahan penting sekolah yang dipimpinnya. Karenanya, Hendro berinisiatif cari jalan keluar yang betul-betul dapat menyelesaikan masalah itu.

    “Nah, tahun 2010-2011 ramai-ramainya Kontes Robot Indonesia (KRI). Jika tidak salah, 2010, KRI pernah diselenggarakan di Universitas ITS. Saat itu, saya lihat, kok asik ya. Hebat. Selanjutnya saya mikir, ini kan brand-nya tehnologi. Telah mulai akan tergantikan beberapa fungsi pekerjaan manusia jadi robot,” tuturnya kembali kenang.

    Sepulang dari acara KRI, Hendro seakan memperoleh secercah panduan dari Tuhan. Terbesit di pikirannya untuk bikin program bagian tehnologi, agar membuahkan karya yang baik. Hingga, diterima oleh warga secara baik. Serta yang paling penting ialah dapat mengangkat nama sekolahnya.

    “Dari situ, saya cetuskan untuk buka ekstrakurikuler (ekskul) robotika tahun 2011. Walau sebenarnya, saya tidak memahami dunia robotika,” akunya sambil ketawa lebar.

    Berusaha Cari Tutor Robotika

    Hendro sadar benar, jika dianya tidak pahami benar-benar sangkut-paut dunia robotika. Karenanya, dia harus cari tutor spesial.

    Puncak di cintai ulam juga datang. Hendro bisa referensi seorang mahasiswa tapi jurusan fisika. Sebab saat itu belum pahami mengenai robotika, karena itu, dia terima mahasiswa itu jadi tutor ekskul robotika SMP Islam al-Azhar 13 Surabaya.

    Untuk kali pertamanya, murid-murid diajari membuat Robot Land Flower (Penyiram Tanaman) memakai analog. Bukan sensor.

    “Anak-anak dapat nyolder. Robot dapat jalan ikuti garis trek. Lihat beberapa anak dapat lakukan hal tersebut, saya turut suka. Bahagia sekali. Lalu, saya tantang guru robotika ini supaya mengikutkan beberapa anak dalam lomba robotika sampai bisa juara. Harapannya agar dapat membuat nama baik sekolah,” terangnya.

    Tetapi nyatanya, peruntungan belum berpihak murid-muridnya. Team pertama yang diikutkan lomba robotika untuk kali pertamanya kalah. Waktu itu, Hendro tidak bisa mengikuti, sebab harus hadiri pekerjaan lain di Pasuruan, Jawa Timur.

    Lalu, Oktober 2011, beberapa team diberangkatkan untuk ikuti lomba robotika. Tempatnya bukan di Universitas UNAIR Surabaya. Tetapi, di SMP Negeri 4 Jombang. Hendro juga turut mengikuti.

    “Robot Line Pengikut pesaing jalannya banter-banter (kencang). Ibaratnya, kualitas robotnya bagus-bagus. Sesaat, kita bawa serta 2 sensor robot yang jalannya gedhek-gedhek. Perlahan sekali. Serta untuk mengakhiri 1 misi saja tidak dapat. Dari sana, saya meminta tutor agar mengajarkan beberapa anak membuat robot seperti punya pesaing, tetapi dia tidak mampu serta mengundurkan diri,” tuturnya.

    Sesudah tutor pertama tidak berhasil penuhi sasaran yang disetujui, dia juga selekasnya cari alternatif. Universitas Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), yang tidak jauh dari tempat AWG Robotica Course jadi sasaran penting suami dari Anis Kusuma ini, dalam memburu tutor yang ke-2.

    “Padahal, saya tidak tahu harus menjumpai siapa. Intinya jalan saja. Pemikiran saya saat itu masak tidak ada UKM-UKM robotika disana,” tuturnya melepas senyum.

    Sesudah berjalan tanpa ada arah dan arah di Universitas PENS, saat telusuri lantai 2 satu gedung dia merasakan ruang dengan pintu yang sedikit terbuka. Di pintu ada tulisan, “Selain Kru Dilarang Masuk”.

    “Karena ingin tahu, saya mendekati, lihat selintas ke ruang. Ada banyak robot. Saya beranikan diri masuk. Nyatanya ada orang. Ia terkejut karena saya ada mendadak,” kenangnya ketawa.

    Dari situlah, Hendro mendapatkan referensi . Namanya Rodik. Mahasiswa PENS jurusan robotika. “Kami juga deal-dealan sampai tercipta persetujuan,” tuturnya.

    Hendro bisa mulai bernapas lega. Sensor robot yang awalnya lemot meminta ampun lajunya, oleh Rodik sukses dirubah jadi cukup cepat. Dia memperhatikan, bila tehnologi yang dipakai di antara tutor pertama dengan tutor keduanya jauh tidak sama.

    “Nah, April 2012, ada lomba robot pembersih sampah di ITS Expo. Kami ajari beberapa anak buat robot untuk turut lomba itu. Bisa Juara I. Alhamdulillah, itu kali pertamanya dilatih Mas Rodik. Saya bahagia sekali. Terhitung beberapa anak. Ditambah lagi orangtuanya. Faksi yayasan juga bangganya meminta ampun,” jelasnya.

    Dibawah kerjasama di antara Hendro serta Rodik, potensi murid-murid ekskul robotika juga makin melesat. Mereka tidak sebatas buat robot analog, tapi memulai belajar pemrograman robot atau suatu hal yang terkait dengan tehnologi. Bahkan lakukan beberapa analisa (riset) dengan mandiri.

    “Itu untuk tingkatkan level potensi mereka,” tuturnya waktu terlibat perbincangan dengan hidayatullah di lantai 2 sekretariat AWG Robotica Course Surabaya.

    Dengan bertambahnya potensi dan pengalaman ikuti beberapa tempat persaingan, murid-murid ekskul robotika ini juga jadi berlangganan juara. Bersamaan dengan kesuksesan itu, nama baik SMP Islam al-Azhar 13 Surabaya, terjaga sendirinya.

    Hendro tidak ingin keberhasilan yang diraihnya dalam mem-branding sekolah melalui tehnologi, cuma dirasa oleh SMP Islam al-Azhar 13 Surabaya. Tetapi, sekolah-sekolah yang lain di Indonesia.

    “Kebetulan Mas Rodik memiliki rekan, yang telah lama punya CV namanya AWG Market serta beroperasi di sektor penyediaan beberapa barang elektronik. Kami ajak berdiksusi bikin membangun instansi pelatihan robotika. Tapi nyatanya tidak dapat gunakan CV. Harus buat yayasan,” tutur Kepala Sekolah SMP Islam al-Azhar 13 Surabaya (2016-2019) ini.

    Sesudah yayasan berdiri (2016), sekalian mengatur izin operasional AWG Robotica Course, Hendro bergerilya ke sekolah-sekolah lain untuk tawarkan kerja sama, entahlah berbentuk training atau penyediaan robot. Bergantung keperluan semasing sekolah.

    “Dulunya, awal-awal yang kita tembak masih sekolah-sekolah al-Azhar. Seperti SDI al-Azhar 11, SDI al-Azhar 35. Sesudah al-Azhar selesai, baru ke sekolah lain seperti al-Hikmah dan lain-lain,” jelas konsultan pendidikan yang suka berpetualang ini.

    Semenjak izin operasional keluar tahun 2017 sampai saat ini, telah ada 21 sekolah, yang merajut kerja sama juga dengan AWG Robotica Course. Umumnya memang sekolah di Surabaya. Selain itu ada yang dari Mojokerto, Jombang, Pasuruan, Bojonegoro, Solo, Palu, Gresik, dan Sorong. Keseluruhan jumlahnya muridnya sampai 389 orang.

    “Nah, spesial yang Sorong serta Palu, gurunya hadir ke Surabaya sepanjang 2 bulan. Sepanjang itu, kita beri training. Untuk sekolah-sekolah yang dapat kita jangkau, yang dilatih murid-muridnya. Serta kurikulumnya semua dari kita,” tambah Hendro.

    Tidak hanya share ide, ayah dari Nur Hamida al-Latifa dan Nur Hamida al-Kamila ini ingin membuat kesadaran pada generasi muda supaya melek pada tehnologi. Bukan sebatas jadi pemakai, tetapi lebih dari itu jadi pencipta beberapa piranti tehnologi yang bisa memberi faedah buat warga luas.

    “Di di antara faedah dari belajar programing membuahkan kran air dengan sensor spesial. Jadi, kita tidak butuh memutar kran, tinggal simpan tangan dibawah kran, air akan mengalir sendirinya,” katanya memberikan contoh.

    Tidak hanya dilirik beberapa sekolah di Indonesia, aksi Hendro dalam bagian tehnologi, dapat membuat PT. Astra Internasional Tbk simpatik. Dia juga didapuk jadi satu dari 6 penerima animo SATU Indonesia Awards 2019. Satu tempat menjaring generasi muda yang kreatif, inovatif, serta mempunyai potensi bawa perkembangan ditengah-tengah warga.

    Tempat penghargaan yang sudah masuk umur satu dasawarsa ini dipelopori perusahaan Astra yang semenjak 1957 selalu berkarya untuk perkembangan bangsa Indonesia.

Viewing 1 post (of 1 total)

You must be logged in to reply to this topic.